
Ya Allah yang maha pengasih, yang maha kaya, yang maha agung, yang memberi rezeki ... mudahan kitani dapat dianugerahkan untuk berjumpa dengan Malam Lailatul Qadar. Amin Ya Rabbal Alamin..
Berikut adalah petikan dari Diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu ‘Isa Nurwahid dari Fataawa Lajnah ad Da’imah, Syarhul Mumthi’ Ibnu Utsaimin, Fataawa wa Rasaail Ibnu Utsaimin, dan Majmu’Fataawa Syaikh Shalih Fauzan) Sumber : Buletin Da’wah Al-Atsary, Semarang. Edisi 18 / 1427 H
Adapun alamat secara langsung (yaitu pada malamnya), di antaranya:
-
Sinar cahaya sangat kuat pada malam Lailatul Qadar dibandingkan dengan malam-malam yang lainnya. Tanda ini pada zaman sekarang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang tinggal ditempat yang jauh dari sinar letrik atau sejenisnya.
- Bertambah kuatnya cahaya pada malam itu.
-
Thuma’ninah. Yaitu ketenangan dan kelapangan hati yang dirasakan oleh orang-orang yang beriman lebih kuat dari malam-malam yang yang lainnya.
-
Angin dalam keadaan tenang pada malam Lailatul Qadar, tidak berhembus kencang (tidak ada badai) dan tidak ada guntur. Hal ini berdasarkan hadits dari sahabat Jabir bin Abdillah sesungguhnya Rasulullah bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya Aku melihat Lailatul-Qadar kemudian dilupakannya, Lailatul-Qadar turun pada 10 akhir (bulan Ramadhan) yaitu malam yang terang, tidak dingin dan tidak panas serta tidak turun hujan”. (HR. Ibnu Khuzaimah no.2190 dan Ibnu Hibban no.3688 dan disahihkan oleh keduanya). Kemudian, hadits dari shohabat ‘Ubadah bin Shomit sesungguhnya Rasulullah bersabda (yang artinya) “Sesungguhnya alamat Lailatul-Qadar adalah malam yang cerah dan terang seakan-akan nampak didalamnya bulan bersinar terang, tetap dan tenang, tidak dingin dan tidak panas. Haram bagi bintang-bintang melempar pada malam itu sampai waktu subuh. Sesungguhnya termasuk dari tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya dalam keadaan tegak lurus, tidak tersebar sinarnya seperti bulan pada malam purnama, haram bagi syaitan keluar bersamanya (terbitnya matahari) pada hari itu”. (HR. Ahmad 5/324, Al-Haitsamy 3/175 dia berkata : perawinya tsiqoh)
-
Terkadang Allah memperlihatkan malam Lailatul-Qadar kepada seseorang dalam mimpinya. Sebagaimana hal ini terjadi pada diri para sahabat Rasulullah .
-
Kenikmatan beribadah dirasakan oleh seseorang pada malam Lailatul-Qadar lebih tinggi dari malam-malam yang lainnya.
